Nestapa Keluarga Renta Di Kota Sukabumi dalam Rumah Tua yang Nyaris Roboh

Di tengah wacana kemajuan Kota Sukabumi dengan perkembangan jalan masuk jalan tol dari Ibu Kota, masih terdapat rumah warga yang tak cocok huni. Rumah itu ditempati Yadi Suryadi (52) bersama sang ibu, Onih yang memasuki umur senja 90 tahun.

Rumah tak cocok huni itu terletak di Kampung Cisarua RT 02/04, Kelurahan Tipar, Kota Sukabumi, Yadi memerlukan uluran tangan untuk tarif pengobatan dan pembenahan rumahnya.

Rumah dengan ukuran kurang lebih 60 meter slot sever thailand persegi itu kelihatan kumuh dan tak terawat. Bagian plafon rumah nyaris runtuh. Yadi mengaku dibayang-bayangi ketakutan dikala hujan deras turun. Dikala disambangi, ia kelihatan kesusahan untuk mengamati.

Bukan tak berkeinginan untuk mengoreksi rumah tak cocok huni (Rutilahu) hal yang demikian dan memulihkan kesehatannya, Yadi menuturkan, keadaan yang mengalami kesusahan mengamati, membuat ia tak dapat berprofesi.

“Aku hidup berdua dengan ibu saya yang telah lanjut umur. Keseharian saya hanya pengangguran, tak berprofesi karena keadaan kurang dapat mengamati. Di tambah saya harus mengurus ibu yang telah berusia 90 tahun. Jangankan untuk mengoreksi rumah, untuk tarif keseharian saja kami mengalami kesusahan,” ungkap Yadi, Rabu (29/5/2024).

Dia mengatakan, dikala hujan turun, rumahnya acap kali digenangi banjir. Atap rumahnya telah lapuk karena tergoda umur. Dia tak dapat bertingkah banyak, hanya dapat bertahan dan berkeinginan atap itu tak runtuh, sambil mengurus ibunya.

“Ya, bila turun hujan acap kali terjadi banjir. Selain itu, saya bahkan khawatir atap rumah runtuh. Melainkan berkeinginan bagaimana, untuk keadaan dikala ini sepertinya tak dapat melakukan perbaikan rumah. Jadi hanya dapat bertahan di sini saja,” tuturnya.

Rumah itu telah ditinggali sejak 1980. Melainkan, karena cuaca hujan disertai angin cepat yang terjadi dalam empat bulan terakhir, memperparah keadaan bangunan hal yang demikian. Besar harapan Yadi mendapatkan bantuan perbaikan rumah dari pemerintah.

“Jujur kami was-was dengan keadaan rumah seperti ini,” ucapnya.

Upaya Pengajuan Bantuan Koreksi Rumah

Lurah Tipar, Cecep Kuswandi M mengatakan, sejauh ini pihaknya telah berusaha mengajukan bantuan perbaikan rumah Yadi. Melainkan, perbaikan rumah tak cocok huni itu tak dapat dilakukan sepenuhnya.

“Kami telah lama mengajukan perbaikan rumah hal yang demikian, tapi kan namanya bantuan Rutilahu (rumah tak cocok huni) anggarannya cukup minim paling sebesar Rp20 juta. Sehingga, dengan keadaan luas rumah hal yang demikian tak dapat semuanya diperbaiki,” ujar Cecep.

Dia menyebut, pada 2021 silam, Yadi sempat akan mendapatkan bantuan perbaikan. Melainkan, pihak keluarga menolak karena tak ada untuk swadaya untuk pelaksanaan pembangunan. Sehingga, bantuan dialihkan untuk pembangunan rutilahu warga lainnya.

“Sesungguhnya 2021 lalu berkeinginan ada bantuan, karena pihak keluarga tak ada swadayanya sehingga harus dialihkan kepada warga lainnya. Karena memang pemilik rumahnya dikala ini tak berprofesi,” jelasnya.

Kendati demikian, lanjut ia, pihak keluarga setiap tiga dan enam bulan sekali mendapatkan bantuan sembako dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Sukabumi. Malah, Badan Penanggulangan Bencana Tempat (BPBD) bahkan telah menyalurkan terpal untuk menutup plafon rumah sementara waktu.

Cecep mengatakan, berakhir berkoordinasi dengan Pemkot, rumah Yadi akan diperbaiki lewat anggaran perubahan APBD Kota Sukabumi.

“Ya, infonya telah masuk pada anggaran perubahan nanti tapi sekali lagi dari bantuan hal yang demikian tak dapat mengoreksi bangunan rumah semuanya karena anggarannya terbatas,” ujarnya.

Terpisah, Penjabat Wali Kota Sukabumi Kusmana Hartadji mengoreksi, pihaknya akan memberikan bantuan bagi keluarga Yadi. Anggaran perbaikan rumah Yadi itu direncanakan masuk dalam anggaran perubahan.

Kusmana membeberkan, penyaluran bantuan bagi rumah yang terdampak petaka telah separuhnya disalurkan lewat Dinas Sosial, Baznas, DKP3 sampai BPBD Kota Sukabumi.

“Karena di kelurahan yang sama ada tiga titik memerlukan pembangunan kembali pasca petaka. Pada jatah anggaran murni, baru dua titik. Rutilahu (rumah Yadi) ini gampang-mudahan dapat di perubahan karena luasannya agak luas,” jelasnya.